INSTRUCTIONAL GOALS
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Banyak yang mengira bahwa belajar filsafat sangatlah
sulit, ada yang menganggap belajar filsafat itu susah dipahami, ada yang
menganggap belajar filsafat itu sesat, dan ada pula yang menganggap
belajarfilsafat itu ilmu yang tidak penting dipelajari. Dilihat dari peminatan
belajar filsafat sangatlah rendah yang ingin mempelajarinya. Cara mudah untuk
memahami atau mempelajari filsafat sangatlah mudah, filsafat mempunyai beberapa
bagian dan cabang-cabangnya, belajar filsafat bisa dikiaskan dengan sebuah
pohon yaitu terdiri bagian dari akar, batang dan ranting. Setiap bagian
tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda dan memiliki pemahaman tersendiri.
Pada hakikatnya filsafat merupakan usaha sesorang untuk mencari secara mendalam
kebenaran segala sesuatu berdasarkan pemikiran atau rasio. Jadi, seseorang yang
mempelajari dan memahami filsafat bisa disebut orang yang sadar dan dewasa.
Karena dia ingin memikirkan sesuatu secara mendalam dan luas.
Secara umum, mempelajari filsafat bertujuan untuk
mengendalikan manusia yang bersusila, bermoral, bermartabat, dan mempunyai
etika bahkan estetika yang baik. Secara khusus, filsafat mengajarkan bagaimana
“cara berpikir”. Berpikir secara sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka penulis menyusun sebuah makalah yang
berjudul “Pengertian Filsafat, Filsafat Ilmu, dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
penjelasan singkat dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan
permasalahan sebagai berikut.
1. Apa
yang dimaksud dengan filsafat dan filsafat ilmu?
2. Apa
saja ruang lingkup filsafat ilmu?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan hasil rumusan masalah,
maka didapat tujuan penulisan sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat dan filsafat ilmu.
2. Untuk
mengetahui ruang lingkup filsafat ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Filsafat dan Filsafat Ilmu
1.
Pengertian Filsafat
Secara etimologi filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “falsafah” atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philie : cinta dan sophia: kebijaksanaan. Jadi bisa
dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dari
segi etimologi filsafat diartikan mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana
(kata sifat) dan kebijaksanaan (kata benda).
Filsafat
adalah usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ihwal asal mula, sifat dasar
alam semesta tempat manusia hidup, serta apa tujuan hidupnya (Suryo Ediyono, 2012:1). Tujuan yang
mencakup pemahaman dan kebijaksanaan dalam seluruh bidang kehidupan. Yang
dimana filsafat berusaha untuk menyatukan hasil-hasil ilmu dengan pemahaman
tentang moral, estetik, dan agama. Sehingga bisa dikatakan filsafat termasuk
ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya. Untuk lebih mudah memahami
filsafat itu sendiri kita harus meninjau dari segi etimologi. Ditinjau dari
arti secara etimologi tersebut filsafat dapat digunakan sebagai:
a.
Filsafat sebagai sikap
Maksudnya filsafat
merupakan sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran, dan selalu
bersedia meninjau suatu persoalan dari banyak sudut pandang.
b.
Filsafat sebagai metode
Filsafat juga
sebagai metode, yaitu sebagai cara berfikir efektif, penyelidikan menggunakan
landasan, serta berpikir secara hati-hati. Perlu digaris bawahi metode tersebut
bersifat inklusif (mencakup secara luas).
c.
Filsafat sebagai kelompok
persoalan
Peran filsafat
untuk memikirkan dan menemukan jawaban atas suaru persoalan yang ada
dikehidupan manusia
d.
Filsafat sebagai sistem
pemikiran
e.
Filsafat sebagai analisis
logis dan penjelasan makna istilah
Dimana fungsi
filsafat untuk menganalisis konsep kehidupan.
f.
Filsafat sebagai
pandangan meyeluruh
Filsafat adalah
gabungan kesimpulan berbagai ilmu dan pengalaman manusia yang menjadi pandangan
hidup.
Berfilsafat adalah berpikir dikemukakan oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas
Filsafat UGM (2002: 40).
Orang yang berpikir belum tentu berfilsafat tetapi orang yang berfilsafat sudah
pasti berpikir. Berfilsafat itu berpikir dengan
ciri-ciri tertentu. Ciri – ciri berpikir secara filsafat sebagai berikut:
a.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara radikal.
Berpikir seara radikal adalah berpikir
sampai ke akar-akarnya. Artinya berpikir sampai ke hakikat, esensi atau
substansi.
b.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara universal
Berpikir secara universal yaitu berpikir
tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum.
c.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara konseptual
Berpikir secara
konseptual maksudnya berpikir secara kefilsafatan melampaui batas pengalaman
hidup sehari-hari.
d.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten
Koheren artinya sesuai
dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung
kontradiksi. Jadi, dalam hal ini berpikirnya harus tidak terdiri dari
pendapat-pendapat yang saling berkontradiksi.
e.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara sistematik
Pendapat-pendapat yang
merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan
terkandung tujuan tertentu.
f.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara kemprehensif
Komprehensif yang
dimaksud adalah mencakup secara menyeluruh, berarti sistem itu terdiri dari
secara utuh tidak ada sesuatu yang ada diluarnya.
g.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara bebas
Berpikir filsafaat secara
bebas diartikan dengan bebas dari prasangka – prasangka sosial, historis,
kultural, maupun religius. Akan tetapi tetap dibatasi oleh sebuah ikatan dari
kaidah – kaidah, disiplin pikiran itu sendiri. Sehingga berfikir secara bebas
namun terikat.
h.
Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara bertanggung jawab
Pertanggung jawaban yang
dimaksud adalah terhadap hati nuraninya sendiri, disini menampakan hubungan
anatara kebebasan berpikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.
2.
Pengertian
Filsafat Ilmu
Filsafat
sebagai induk ilmu pengetahuan, filsafat berusaha untuk menyatukan bahkan
memadukan berbagai ilmu. Bagian dari tugas filsafat untuk mengatasi
spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup. Sehingga ada hubungan timbal
balik antara filsafat dengan ilmu. Karena
sifatnya yang sangat rasional dan merupakan buah pemikiran yang berdasarkan
empirik yang dilakukan oleh para filosof sehingga menghasilkan suatu kebenaran
yang dapat diimplementasikan teori mereka masing-masing ke dalam kehidupan yang
nyata. The Lian Gie (2012:61-62) mengatakan bahwa
filsafat ilmu adalah segenap pemikiran efektif terhadap persoalan – persoalan
mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu
dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan dari ilmu itu mencakup:
konsep-konsep pangkal, anggapan-anggapan dasar, asas-asas pemulaan,
struktur-struktur teoritis, ukuran-ukuran kebenaran ilmiah. Menurut Jujun S.
Suriamantri ( 2005:33),
“Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang
secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah)”.
The
Liang Gie (2012:62-63), membagi bidang pengetahuan ilmiah secara tegas
berdasarkan jenis dan ragam. Pembagian menurut jenis memakai isi substantif
dari pengetahuan ilmiah sebgai dasarnya, sedangkan pembagian menurut ragam ilmu
mengacu pada salah satu sifat atributifnya yang dipilih sebagai ukuran. Kedua
hal itu jelas berlainan sehingga hasil pembagiannya juga sama sekali berbeda.
Contohnya pembagian ilmu dalam Undang-undang Perguruan Tinggi (UU 1961/22) :
ilmu agama/kerohanian, ilmu kebudayaan, ilmu sosial, dan ilmu eksakta dan
teknik. Pembagian ini tidak sepenuhnya berdasarkan jenis, melainkan telah
berbaur dengan ragam.
Menurut John Losee (The Lliang Gie,
2012:73) filsafat ilmu dibedakan menjadi empat konsepsi:
1)
Filsafat ilmu yang berusaha menyusun
pandangan-pandangan dunia yang sesuai teori-teori ilmiah yang penting.
2)
Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan
praanggapan dan kecenderungan para ilmuwan (misalnya praanggapan bahwa alam
semesta mempunyai keteraturan).
3)
Fislafat ilmu sebagai suatu cabang
penegtahuan yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu.
4)
Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis
derajat kedua yang menelaah ilmu sebagai sasarannya.
Dalam konsepsi Losee(The Lliang Gie,
2012:73) pengetahuan manusia mengenal 3 tingkatan:
Tingkatan
0 : fakta –fakta
Tingkatan
1 : penjelasan mengenai fakta-fakta. Ini
dilakukan oleh ilmu.
Tingkatan
2 : analisis mengenai prosedur dan
logika dari penjelasan ilmiah.
Ini merupakan bidang filsafat ilmiah.
Dari teori di atas kami berpendapat bahwa filsafat ilmu
adalah suatu pemikiran mengenai ilmu yang mencakup permasalahan suatu pandangan hidup yang secara spesifik
mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah.
B.
Ruang
Lingkup Filsafat Ilmu
Ruang
lingkup filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagaimana dikemukakan oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas
Filsafat UGM (2002:44) merupakan keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok
bahasan, yaitu:pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua,
menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”. Pada pokok bahasan pertama
filsafat ilmu berhubungan erat dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi,
yang merupakan bidang kajian filsafat yang secara umum menyelidiki
syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan
kedua, yakni terkait dengan pokok soal “cara-cara mengusahakan pengetahuan
ilmiah”, filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi.
Lingkupan
filsafat ilmu dikemukakan oleh beberapa ahli filsafat sebagai berikut: Menurut Ernest Nagel
dalam The Liang Gie (2012:62), menyimpulkan bahwa filsafat ilmu mencakup tiga
bidang luas:
1) Pola
logis yang ditunjukan oleh penjelasan dalam ilmu (logical patterns exhibited by explanations in the science)
2) Pembentukan
konsep ilmiah (construction of scientific
concepts)
3) Pembuktian
keabsahan kesimpulan ilmiah (validation
of scientific conclutions)
Sedangkan menurut
J.J. C. Smart dalam The Liang Gie (2012:68),
menganggap filsafat ilmu mempunyai dua komponen utama:
1)
Bahasan analitis dan
metodologis tentang ilmu
2)
Penggunaan ilmu untuk
membantu pemecahan masalah - masalah
filsafati
Dari ahli filsuf Marx Wartofsky dalam The Liang Gie
(2012:69), berpendapat filsafat ilmu
meliputi perenungan mengenai konsep dasar, struktur formal, dan metodologi ilmu, serta
persoalan-persoalan ontologi dan epistomologi yang khas bersifat filsafati
dengan pembahasan yang memadukan peralatan analitis dari logika modern dan model konseptual dari
penyelidikan ilmiah.
Lingkupan filsafat yang begitu luas
dan beraneka ragam perlu dikelompokan dan dipilah-pilah sehingga menjadi suatu
gambaran yang lebih teratur. Hal ini akan tercapai dengan membagi dan
membedakan filsafat ilmu dalam jenis, ragam, atau golongan dengan tepat. Ruang lingkup filsafat ilmu berbeda dengan tahapan
filsafat ilmu. Ruang lingkup akan
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dan pembahasan bab sebelmunya
terkait pengertian filsafat, filsafat ilmu dan ruang lingkup filsafat ilmu.
Penulis menyimpulkan bahwa:
1.
Filsafat
itu adalah cara berpikir manusia terhadap pandangan hidupnya secara menyeluruh
dengan bijaksana maupun kebijaksanaan dan mempunyai ciri-ciri tertentu.
2.
Filsafat ilmu adalah
suatu pemikiran mengenai ilmu yang mencakup permasalahan suatu pandangan hidup yang secara spesifik
mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah.
3.
Cakupan ruang lingkup
filsafat ilmu yang terlalu luas dikelompokan menjadi dua pandangan, secara umum
dan khusus.
B. Saran
Penulis menyarankan baik untuk pembaca maupun penulis
selanjutnya terkait bahasan pada makalah ini yaitu:
1. Menelaah
tentang filsafat dari berbagai sumber, karena materinya yang sangat luas.
Sehingga dapat memperluas pandangan kita terhadap filsafat itu sendiri.
2. Jangan
takut untuk berfilsafat, karena orang yang berfilsafat sudah pasti berpikir
namun berpikir belum tentu berfilsafat. Berfilsafat memberikan kebebasan
terhadap individu untuk berpikir secara rasional dan logis.
DAFTAR
PUSTAKA
Jujun S
Suriasumantri. 2005. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Suryo Ediyono. 2012. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Kaliwangi.
The Liang
Gie. 2012. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Tim Dosen Filsafat Ilmu. 2002. Filsafat
Ilmu sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Yogyakarta: Liberty
Yogyakart.
Komentar
Posting Komentar