INSTRUCTIONAL GOALS

Gambar
 INSTRUCTIONAL GOALS A.     Pengertian Kebutuhan Pembelajaran Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya atau dapat disebut sebagai masalah prioritas untuk diatasi. Analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran. Dick and Carey (2001:hal) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat  dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Para ahli menempatkan penilaian kebutuhan bagian permulaan dari proses pengembangan, sedangkan proses pengembangan sendiri adalah bagian dari permulaan siklus kegiatan instruksional (pengarang, tahun:hal). Secara garis besar proses untuk mendapatkan informasi tentang analisis kebutuhan instruksional, dalam tujuan pembelajaran yang diharapkan maka dilakukan analisis awal dan akhir ( Fornt-End Analysis ). Proses identifikasi kebutuhan instruksional hanya sampai pada perumusan...

HAKIKAT FILSAFAT ILMU

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Banyak yang mengira bahwa belajar filsafat sangatlah sulit, ada yang menganggap belajar filsafat itu susah dipahami, ada yang menganggap belajar filsafat itu sesat, dan ada pula yang menganggap belajarfilsafat itu ilmu yang tidak penting dipelajari. Dilihat dari peminatan belajar filsafat sangatlah rendah yang ingin mempelajarinya. Cara mudah untuk memahami atau mempelajari filsafat sangatlah mudah, filsafat mempunyai beberapa bagian dan cabang-cabangnya, belajar filsafat bisa dikiaskan dengan sebuah pohon yaitu terdiri bagian dari akar, batang dan ranting. Setiap bagian tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda dan memiliki pemahaman tersendiri. Pada hakikatnya filsafat merupakan usaha sesorang untuk mencari secara mendalam kebenaran segala sesuatu berdasarkan pemikiran atau rasio. Jadi, seseorang yang mempelajari dan memahami filsafat bisa disebut orang yang sadar dan dewasa. Karena dia ingin memikirkan sesuatu secara mendalam dan luas.

Secara umum, mempelajari filsafat bertujuan untuk mengendalikan manusia yang bersusila, bermoral, bermartabat, dan mempunyai etika bahkan estetika yang baik. Secara khusus, filsafat mengajarkan bagaimana “cara berpikir”. Berpikir secara sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka penulis menyusun sebuah makalah yang berjudul “Pengertian Filsafat, Filsafat Ilmu, dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan singkat dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut.

1. Apa yang dimaksud dengan filsafat dan filsafat ilmu?

2. Apa saja ruang lingkup filsafat ilmu?


C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan hasil rumusan masalah, maka didapat tujuan penulisan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat dan filsafat ilmu.

2. Untuk mengetahui ruang lingkup filsafat ilmu


BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pengertian Filsafat dan Filsafat Ilmu

1.         Pengertian Filsafat

Secara etimologi filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “falsafah” atau juga dari bahasa Yunani yaitu  philosophia – philie : cinta dan sophia: kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dari segi etimologi filsafat diartikan mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (kata sifat) dan kebijaksanaan (kata benda).

Filsafat adalah usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ihwal asal mula, sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup, serta apa tujuan hidupnya (Suryo Ediyono, 2012:1). Tujuan yang mencakup pemahaman dan kebijaksanaan dalam seluruh bidang kehidupan. Yang dimana filsafat berusaha untuk menyatukan hasil-hasil ilmu dengan pemahaman tentang moral, estetik, dan agama. Sehingga bisa dikatakan filsafat termasuk ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya. Untuk lebih mudah memahami filsafat itu sendiri kita harus meninjau dari segi etimologi. Ditinjau dari arti secara etimologi tersebut filsafat dapat digunakan sebagai:

a.         Filsafat sebagai sikap

Maksudnya filsafat merupakan sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran, dan selalu bersedia meninjau suatu persoalan dari banyak sudut pandang.

b.         Filsafat sebagai metode

Filsafat juga sebagai metode, yaitu sebagai cara berfikir efektif, penyelidikan menggunakan landasan, serta berpikir secara hati-hati. Perlu digaris bawahi metode tersebut bersifat inklusif (mencakup secara luas).

c.         Filsafat sebagai kelompok persoalan

Peran filsafat untuk memikirkan dan menemukan jawaban atas suaru persoalan yang ada dikehidupan manusia

d.         Filsafat sebagai sistem pemikiran

e.         Filsafat sebagai analisis logis dan penjelasan makna istilah

Dimana fungsi filsafat untuk menganalisis konsep kehidupan.

f.          Filsafat sebagai pandangan meyeluruh

Filsafat adalah gabungan kesimpulan berbagai ilmu dan pengalaman manusia yang menjadi pandangan hidup.

Berfilsafat adalah berpikir dikemukakan oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM (2002: 40). Orang yang berpikir belum tentu berfilsafat tetapi orang yang berfilsafat sudah pasti berpikir. Berfilsafat itu berpikir dengan ciri-ciri tertentu. Ciri – ciri berpikir secara filsafat sebagai berikut:

a.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal.

Berpikir seara radikal adalah berpikir sampai ke akar-akarnya. Artinya berpikir sampai ke hakikat, esensi atau substansi.

b.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal

Berpikir secara universal yaitu berpikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum.

c.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual

Berpikir secara konseptual maksudnya berpikir secara kefilsafatan melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.

d.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten

Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi. Jadi, dalam hal ini berpikirnya harus tidak terdiri dari pendapat-pendapat yang saling berkontradiksi.

e.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik

Pendapat-pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung tujuan tertentu.

f.          Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara kemprehensif

Komprehensif yang dimaksud adalah mencakup secara menyeluruh, berarti sistem itu terdiri dari secara utuh tidak ada sesuatu yang ada diluarnya.

 

g.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara bebas

Berpikir filsafaat secara bebas diartikan dengan bebas dari prasangka – prasangka sosial, historis, kultural, maupun religius. Akan tetapi tetap dibatasi oleh sebuah ikatan dari kaidah – kaidah, disiplin pikiran itu sendiri. Sehingga berfikir secara bebas namun terikat.

h.         Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara bertanggung jawab

Pertanggung jawaban yang dimaksud adalah terhadap hati nuraninya sendiri, disini menampakan hubungan anatara kebebasan berpikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.

 

2.         Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan, filsafat berusaha untuk menyatukan bahkan memadukan berbagai ilmu. Bagian dari tugas filsafat untuk mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup. Sehingga ada hubungan timbal balik antara filsafat dengan ilmu. Karena sifatnya yang sangat rasional dan merupakan buah pemikiran yang berdasarkan empirik yang dilakukan oleh para filosof sehingga menghasilkan suatu kebenaran yang dapat diimplementasikan teori mereka masing-masing ke dalam kehidupan yang nyata. The Lian Gie (2012:61-62) mengatakan bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran efektif terhadap persoalan – persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan dari ilmu itu mencakup: konsep-konsep pangkal, anggapan-anggapan dasar, asas-asas pemulaan, struktur-struktur teoritis, ukuran-ukuran kebenaran ilmiah. Menurut Jujun S. Suriamantri ( 2005:33), “Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah)”.

The Liang Gie (2012:62-63), membagi bidang pengetahuan ilmiah secara tegas berdasarkan jenis dan ragam. Pembagian menurut jenis memakai isi substantif dari pengetahuan ilmiah sebgai dasarnya, sedangkan pembagian menurut ragam ilmu mengacu pada salah satu sifat atributifnya yang dipilih sebagai ukuran. Kedua hal itu jelas berlainan sehingga hasil pembagiannya juga sama sekali berbeda. Contohnya pembagian ilmu dalam Undang-undang Perguruan Tinggi (UU 1961/22) : ilmu agama/kerohanian, ilmu kebudayaan, ilmu sosial, dan ilmu eksakta dan teknik. Pembagian ini tidak sepenuhnya berdasarkan jenis, melainkan telah berbaur dengan ragam.

Menurut John Losee (The Lliang Gie, 2012:73) filsafat ilmu dibedakan menjadi empat konsepsi:

1)          Filsafat ilmu yang berusaha menyusun pandangan-pandangan dunia yang sesuai teori-teori ilmiah yang penting.

2)          Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan praanggapan dan kecenderungan para ilmuwan (misalnya praanggapan bahwa alam semesta mempunyai keteraturan).

3)          Fislafat ilmu sebagai suatu cabang penegtahuan yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu.

4)          Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah ilmu sebagai sasarannya.

Dalam konsepsi Losee(The Lliang Gie, 2012:73) pengetahuan manusia mengenal 3 tingkatan:

Tingkatan 0    :  fakta –fakta

Tingkatan 1    : penjelasan mengenai fakta-fakta. Ini dilakukan oleh              ilmu.

Tingkatan 2    : analisis mengenai prosedur dan logika dari penjelasan                                  ilmiah. Ini merupakan bidang filsafat ilmiah.

Dari teori di atas kami berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah suatu pemikiran mengenai ilmu yang mencakup permasalahan  suatu pandangan hidup yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah.

B.       Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Ruang lingkup filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagaimana dikemukakan oleh Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM (2002:44) merupakan keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu:pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua, menelaah “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”. Pada pokok bahasan pertama filsafat ilmu berhubungan erat dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi, yang merupakan bidang kajian filsafat yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan kedua, yakni terkait dengan pokok soal “cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”, filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi.

Lingkupan filsafat ilmu dikemukakan oleh beberapa ahli filsafat sebagai berikut: Menurut Ernest Nagel dalam The Liang Gie (2012:62), menyimpulkan bahwa filsafat ilmu mencakup tiga bidang luas:

1)      Pola logis yang ditunjukan oleh penjelasan dalam ilmu (logical patterns exhibited by explanations in the science)

2)      Pembentukan konsep ilmiah (construction of scientific concepts)

3)      Pembuktian keabsahan kesimpulan ilmiah (validation of scientific conclutions)

Sedangkan menurut J.J. C. Smart dalam The Liang Gie (2012:68),  menganggap filsafat ilmu mempunyai dua komponen utama:

1)        Bahasan analitis dan metodologis tentang ilmu

2)        Penggunaan ilmu untuk membantu pemecahan masalah -  masalah filsafati

Dari ahli filsuf Marx Wartofsky dalam The Liang Gie (2012:69),  berpendapat filsafat ilmu meliputi perenungan mengenai konsep dasar, struktur formal, dan metodologi ilmu, serta persoalan-persoalan ontologi dan epistomologi yang khas bersifat filsafati dengan pembahasan yang memadukan peralatan analitis dari logika modern dan model konseptual dari penyelidikan ilmiah.

            Lingkupan filsafat yang begitu luas dan beraneka ragam perlu dikelompokan dan dipilah-pilah sehingga menjadi suatu gambaran yang lebih teratur. Hal ini akan tercapai dengan membagi dan membedakan filsafat ilmu dalam jenis, ragam, atau golongan dengan tepat. Ruang lingkup filsafat ilmu berbeda dengan tahapan filsafat ilmu. Ruang lingkup akan


BAB III

PENUTUP

A.       Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan dan pembahasan bab sebelmunya terkait pengertian filsafat, filsafat ilmu dan ruang lingkup filsafat ilmu. Penulis menyimpulkan bahwa:

1.      Filsafat itu adalah cara berpikir manusia terhadap pandangan hidupnya secara menyeluruh dengan bijaksana maupun kebijaksanaan dan mempunyai ciri-ciri tertentu.

2.      Filsafat ilmu adalah suatu pemikiran mengenai ilmu yang mencakup permasalahan  suatu pandangan hidup yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah.

3.      Cakupan ruang lingkup filsafat ilmu yang terlalu luas dikelompokan menjadi dua pandangan, secara umum dan khusus.

B.       Saran

Penulis menyarankan baik untuk pembaca maupun penulis selanjutnya terkait bahasan pada makalah ini yaitu:

1.      Menelaah tentang filsafat dari berbagai sumber, karena materinya yang sangat luas. Sehingga dapat memperluas pandangan kita terhadap filsafat itu sendiri.

2.      Jangan takut untuk berfilsafat, karena orang yang berfilsafat sudah pasti berpikir namun berpikir belum tentu berfilsafat. Berfilsafat memberikan kebebasan terhadap individu untuk berpikir secara rasional dan logis.


DAFTAR PUSTAKA

Jujun S Suriasumantri.  2005. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Suryo Ediyono. 2012. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Kaliwangi.

The Liang Gie. 2012. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Tim Dosen Filsafat Ilmu. 2002.  Filsafat Ilmu sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Yogyakarta: Liberty Yogyakart.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip ARCS pada Sistematika Bahan Ajar

REVIEW PENELITIAN KUALITATIF

INSTRUCTIONAL GOALS