INSTRUCTIONAL GOALS

 INSTRUCTIONAL GOALS


A.    Pengertian Kebutuhan Pembelajaran

Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya atau dapat disebut sebagai masalah prioritas untuk diatasi. Analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran. Dick and Carey (2001:hal) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat  dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

Para ahli menempatkan penilaian kebutuhan bagian permulaan dari proses pengembangan, sedangkan proses pengembangan sendiri adalah bagian dari permulaan siklus kegiatan instruksional (pengarang, tahun:hal). Secara garis besar proses untuk mendapatkan informasi tentang analisis kebutuhan instruksional, dalam tujuan pembelajaran yang diharapkan maka dilakukan analisis awal dan akhir (Fornt-End Analysis). Proses identifikasi kebutuhan instruksional hanya sampai pada perumusan pengetahuan, keterampilan, sikap, serta kompetensi yang perlu dicapai siswa.

B.    Konsep Kebutuhan Pembelajaran

Mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran adalah langkah awal dalam mendesain pembelajaran. Menurut M. Atwi Suparman (2012: 120) mengatakan bahwa proses identifikasi kebutuhan dimulai dari mengidentifikasi kesenjangan antara yang diharapkan dengan keadaan sekarang. Identifikasi kebutuhan instruksional harus ditentukan dari pendidik maupun peserta didik. Ada tiga komponen yang dapat dijadikan sumber informasi dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional: (1) peserta didik, (2) masyarakat; termasuk orang tua dan pihak lain, (3) pendidik; pengajar dan pengelola program pendidikan (Suparman, 2012). Menurut Harles (1975) melukiskan ketiga pihak tersebut saling berhubungan dalam bentuk bagan dibawah ini:




Gambar 1. Hubungan kerjasama dan partisipasi tiga mitra dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional dari harles 1975

 

Identifikasi kebutuhan mempunyai beberapa fungsi, berdasarkan pernyataan Morison, Ross, dan Kemp (2007: 32) bahwa ada empat fungsi didalam identifikasi kebutuhan, sebagai berikut:

1.     Identifikasi kebutuhan yang elevan dengan pekerjaan.

2.     Identifikasi kebutuhan yang mendesak terkait dengan masalah finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu lingkungan pendidikan.

3.     Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.

4.     Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.

 

C.    Langkah-Langkah Identifikasi Kebutuhan Pembelajaran

Menurut Morison dalam identifikasi ada empat tahapan yang harus dilakukan untuk menganalisanya, yakni perencanaan, pengumpulan data, analisis data, dan menyiapkan laporan akhir (Morrison, Ross, dan Kemp, 2007: 36):

Perencanaan (Planning), kegiatan pembelajaran yang baik selalu berawal dari perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang akan memberikan hasil yang maksimal dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, guru sebagai penyusun kurikulum harus mampu membuat pogram pembelajaran sesuai dengan metode dan strategi yang akan digunakan. Dalam tahapan perencanaan ini, hal yang perlu diperhatikan antara lain; membuat klasifikasi siswa, menentukan siapa saja yang akan terlibat dalam kegiatan, dan membuat cara mengumpulkan data. Pengumpulan data bisa dilakukan dengan kuesioner, rangking, interview, dan lain-lain.

Pengumpulan data (Collecting Data), dalam pengumpulan data yang perlu diperhatikan adalah besarkecilnya sampel dalam penyebarannya.

Analisa Data (Data Analysis), setelah data terkumpul kemudian analisis data dilakukan guna memperoleh kesimpulan secara umum dengan pertimbangan ekonomi, rangking, dan kebutuhan.

Membuat laporan akhir (Preparing The Final Report), laporan kebutuhan pembelajaran mencakup empat bagian yakni analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil, serta rekomendasi yang terkait dengan data. Dari tahapan ini dapat digambarkan skema tahapan analisis kebutuhan yang diusulkan oleh Morrison, Ross, dan Kemp (2007: 37) sebagai berikut:

        

Gambar 2. Tahapan analisis kebutuhan Morrison, Ros, dan Kemp (2007: 37)

Morrison, Ross & Kemp (2007 :29) menyatakan bahwa ada delapan langkah dalam mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran sebagai berikut:.

1.        Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;

2.        Menganalisis karakteristik peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;

3.        Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku peserta didik;

4.        Menentukan isi materi belajar yang dapat mendukung tiap tujuan;

5.        Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian tingkatan pengetahuan terhadap suatu topik;

6.        Memilih aktivitas dan sumber belajar yang menyenangkan atau menentukan strategi pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;

7.        Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;

8.        Menegvaluasi pembelajaran peserta didik dengan syarat merekamenyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali terhadap beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

 

Sedangkan menurut Suparman (2012) menyusun langkah-langkah mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran ada delapan langkah, delapan langkah terrsebut dijabarkan sebagai berikut:

Langkah pertama, Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional, menjadi sumber dan pedoman untuk melanjutkan ke langkah berikutnya. Pada langkah ini memuat prosedur identifikasi kebutuhan instruksional dan berhenti setelah diperoleh kesimpulan umum yang perlu diajarkan pada siswa. Setelah kebutuhan instruksional dianalisis dilanjutkan dengan merumuskan Tujuan Instruksional Umum atau yang lebih umum disebut dengan Kompetensi Dasar. Hasil akhir dari analisis kebutuhan instruksional adalah perumusan TIU.

Langkah kedua, yaitu melakukan analisis instruksional. Kegiatan ini menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku yang lebih kecil atau spesifik serta mengidentifikasi hubungan antara perilaku spesifikyang satu dengan yang lainnya. Keterampilan melkaukan analisis instruksional ini sangat pentng artinya bagi kegiatan instruksional, karena penegtahuan, keetrampilan, dan sikap yang harus diberikan lebih dahulu dari yang lain dapat ditentukan dari analisis instruksional. Dengan demikian, guru jelas melihat arah kegiatan instruksionalnya secara bertahap menuju pencapaian Tujuan Instruksional Umum.

Langkah ketiga, mengidentifikasi perilaku dan karaketristik awal siswa. Dalam langkah ini dikemukakan pendekatan menerima siswa apa adanay dan mneyusun sistem instruksional atas dasar keadaan siswa tersebut. Oleh karena itu, langkah ini merupakan proses mengetahui perilaku yang dikuasai siswa sebelum mengikuti pelajaran, bukan untuk menentukan peilaku prasyarat dalam rangka menyeleksi siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Konsekuensi yang digunakan adalah titik mulai suatu kegiatan instruksional tergantung kepada perilaku awal siswa. Hal ini sangat penting karena mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan ssitem instruksional.

Langkah keempat adalah merumuskan/menuliskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Hasil akhir dari kegiatan mengidentifikasi perilaku dan karateristik awal siswa adalah menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada siswa. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dala bentuk Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Merumuskan TIK harus menggunakan empat komponen secara lengkap ABCD (Audience, Behaviour, Condition, Degree). TIK menjadi dasardalam menyusun kisi-kisi tes dan merupakan alat untuk menguji validitas isi tes. Metode instruksional yang dipilih juga berdasarkan perilaku yang ada dalam TIK.

Langkah kelima, menuliskan tes patokan yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil pencapaian siswa merupakan petunjuk sejauh mana tingkat keberhasilan sistem instruksional yang digunakan. Menulis tes acuan aptokan menggunakan tabel spesifikasi atau kisi-kisi sederhana agar dapat memenuhi kebutuhan seorang guru untuk menyusun  tes yang konsisten dengan tujuan instruksional, baik yang bersifat kogntif, psikomotorik, serta afektif.

Langkah keenam, menyusun strategi instruksional yang membahas hal-hal tentang bagaimana sebaiknya seorang guru mengatur urutan kegiatan instruksionalnya setiap kali ia mengajarkan sesuatu bagian dari mata pelajarannya. Strategi instruksional berkaitan dnegan metode, media yang digunakan, waktu pelaksanaan, dan berapa besarusaha yang harus dilaksanakan guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional.

Langkah ketujuh, mengembangkan bahan instruksional berdasarkan strategi instruksional dan tes yang telah disusun. Bahan instruksional dapat dikembangkan sesuai dengan bentuk kegiatan instrukisonalnya. Seluruh bahan instruksional tersebut dikembangkan melalui proses yang sitematis atas dasar prinsip belajar dan prinsip instruksional, yaitu dapat berupa: pengembangan bahan belajar mandiri, pengembangan bahan pengajaran konvensional, pengembangan bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa).

Langkah kedelapan adalah mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dapat didefinisikan sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kulitas program instruksional. Oleh karena itu langkah ini membahas cara mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif terhadap bahan instruksional yang telah didesain. Faktor yang dievaluasi adalah pelaksanaan kegiatan intruksional dengan menggunakan bahan belajar, pedoman pengajaran, pedoman siswa, dan tes. Lebih jelasnya dapat dilihat bagan langkah analisis kebutuhan instruksional menurut Atwi Suparman, sebagai berikut:

                

Gambar 3. Bagan Analisis Kebutuhan Instruksional Model Atwi Suparman (2012)

 

Langkah identifikasi kebutuhan instruksional juga dikemukan oleh Dick, Carey & Carey, yaitu sebagai berikut:

Yang pertama, Identifikasi Tujuan Pembelajaran Khusus adalah langkah pertama yang dilakukan dalam menerapkan model pembelajaran Dick & Carey dengan menentukan kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki peserta didik setelah menempuh program pembelajaran. Hal ini kompetensi yang harus dimiliki peserta didik adalah pemahaman tentang materi perkuliahan.

Yang kedua, Analisis Instruksional. Setelah melakukan identifikasi tujuan pembelajaran maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis instruksional yaitu sebuah prosedur yang digunakan untuk menentukan keterampilan dan pengetahuan yang relevan dan diperlukan oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi. Peserta didik harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap setelah mengikuti pembelajaran.

Yang ketiga, Analisis Peserta Didik dan Konteks. Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap karakteristik peserta didik yang akan belajar dan konteks pembelajaran. Analisis konteks meliputi kondisi-kondisi terkait dngan keterampilan yang dipelajari peserta didik dan situasi tugas yang dihadapi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, sedang analisis karateristik peserta didik adalah kemampuan aktual yang dimiliki peserta didik

Yang keempat, Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus. Dengan dasar analisis instruksional, maka tujuan pembelajaran khusus dirumuskan yang dimana menjadi gambaran dari perilaku peserta didik setelah menerima pelajaran. Indikator tujuan pembelajaran khusus adalah perubahan perilaku pengetahuan mengenai materi perkuliahan.

Yang kelima, Mengembangkan Alat Penilaian. Alat penilaian menjadi wujud timbal balik dalam pembelajaran. Disamping itu untuk mengetahui ketercapaian tujuan dan kompetensi khusus yang telah dirumuskan. Dalam pengembangannya alat evaluasi ini adalah performance peserta didik setelah menerima mata pelajaran. Untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta didik.

Yang keenam, Mengembangkan Strategi Pembelajaran. Strategi pembelajaran yang ditetapkan dapat dijadikan jembatan atau media informasi apakah mendukung ketercapaian kompetensi yang telah dirumuskan atau tidak mendukung.

Yang ketujuh, Pengembangan Bahan Ajar. Pengembangan bahan ajar disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dirumuskan. Selain itu juga disesuaikan dengan strategi pembelajaran yang digunakan.

Yang kedelapan, Merancang Evaluasi Formatif. Tahap ini berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan data kekuatan dan kelemahan program pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Dengan cara, model yang sudah dikembangkan diujicobakan pada kelas kelompok kecil.

Yang kesembilan¸ Melakukan Revisi Terhadap Program Pembelajaran. Pada langkah ini tidak hanya mengevaluasi rancangan program saja, namun pada semua sistem pembelajaran mulai dari analisis instruksional sampai evaluasi formatif. Lebih jelasnya dapat dilihat bagan langkah analisis kebutuhan instruksional menurut Dick Carey & Carey, sebagai berikut:

                    

Gambar 4. Bagan Analisis Kebutuhan Instruksional Model Dick, Carey & Carey.

 

D.    Tujuan Pembelajaran Umum

Bahwa penyelesaian kesenjangan antara tujuan dengan keadaan sekarang adalah penyelenggaraan pembelajaran. Tujuannya adalah tercapainya kompetensi yang tidak pernah dipelajari oleh peserta atau belum dilakukan dengan baik oleh peserta didik. Bloom (1956) membagi tujuan pendidikan menjadi tiga kawasan menurut jenis kemampuan yang tercantum didalamnya, antara lain:

 

1.     Tujuan dalam kawasan kognitif

Tujuan kawasan kognitif yaitu tujuan yang menekankan pada kemampuan berfikir atau ingatan peserta didik. Dalam kawasan kognitif, tujuan pendidikan dibagi menjadi enam jenjang takni pengetahuan, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tahapan ini disusun secara hierarki, artinya jenjang dilakukan secara bertahap dan berurutan. Lebih jelasnya jenjang taksonomi tujuan pendidikan diuraikan secara singkat berikut ini:

a.      Pengetahuan

Meliputi perilaku-perilaku yang menekankan pada ingatan dan pemahaman seperti mengingat sebuah peristiwa atau pemahaman atas ide yang dicetuskannya.

b.     Pemahaman

Meliputi kemampuan peserta didik untuk menerjemahkan, menafsirkan dalam sebuah konsep dengan kata-kata atau simbol dari peristiwa yang ditangkap.  

c.      Penerapan

Kemampuan peserta didik dalam menggunakan konsep atau ide, prinsip, teori, prosedur yang telah dipahami sebelumnya untuk memecahkan masalah atau suatu pekerjaan.

d.     Analisis

Analisis meliputi perilaku menjabarkan atau menguraikan konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci dan menjelaskan keterkaitan hubungan antar bagian-bagian tersebut.

e.      Sintesis

Kemampuan menyatukan bagian-bagian secara terintegritasi menjadi suatu bentu tertentu yangsemula belum ada.

f.      Evaluasi

Evaluasi meliputi kemmapuan untuk membuat penilaian , dengan menerapkan standar seberapa jelas, efektif, ekonomis, atau memuaskan pendidikan yang diterapkan.

 

2.     Tujuan dalam kawasan psikomotorik

Tujuan kawasan psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik, dimana Simpson membagi menjadi tujuh taksonomi, yaitu:

a.      Persepsi, yaitu membiasakan atau memahirkan keterampilan yang diterima.

b.     Kesiapan, kesediaan untuk melatih diri tentang keetrampilan tertentu.

c.      Meniru, kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamati.

d.     Membiasakan, pada tahap ini melakukan keterampilan tanpa melihat contoh.

e.      Adaptasi, mampu melakukan modifikasi yang disesusaikan dengan kebutuhan.

f.      Menciptakan, tahap terakhir yang dimana seseorang sudah mampu menciptakan suatu karya.

 

3.     Tujuan dalam kawasan afektif

Tujuan kawasan afektif berhubungan dengan perubahan sikap, nilai dan perkembangan moral dan keyakinan peserta didik. Artinya orientasi pada kawasan ini lebih pada faktor-faktor emosional. Kawasan afektif dibagi lima jenis taksonomi yang secara bertahap sebagai berikut:

a.      Penerimaan (Attending)

Pada tahap ini diperinci kembali menjadi tiga tahap, yakni:

1)     Kesiapan untuk menerima, yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus pengajaran (bahan bacaan, tontonan).

2)     Kemauan untuk menerima, yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan.

3)     Mengkhususkan perhatian

Fokus pada bagian tertentu dari stimulus yang diperhatikan. Mungkin perhatian hanya pada warna, atau suara tertentu.

b.     Penanggapan (Responding)

Pada tahap ini peserta didik mulai ada reaksi terhadap stimulus yang diberikan. Pada proses ini juga terdiri dari tiga tahap:

1)     Kesiapan menanggapi  yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan atau mentaati tata tertib.

2)     Kemauan menanggapi, usaha untuk melihat hal-hal yang khusus didalam bagian yang diperhatikan.

3)     Kepuasan menanggapi, yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk mengetahui sesuatu.

c.      Penilaian (Valuing)

Tahap penilaian akan timbul proses internalisasi, yaitu proses untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. Dibagi menjadi tiga tahap yaitu (1) Menerima nilai, (2) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi, (3) Komitmen.

d.     Pengorganisasian (Organizing)

Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi suatu nilai tertentu tetapi mulai melihat beberapa nilai yang disusu menjadi suatu sistem. Ada dua tahapan pada proses ini yakni konseptualisasi nilai dan pengorganisasian sistem nilai.

e.      Karakterisasi (characterization)

Kemampuan untuk menghayati sistem nilai. Proses ini terdiri atas dua tahapan yaitu generalisasi dan karakterisasi.

 

E.    Contoh Analisis Kebutuhan Pembelajaran

Contoh 1:

Model Atwi Suparman

Mata pelajaran            : Matematika – Pola Bilangan.

Kelas                                       : Siswa SMP kelas VIII

Standar Kompetensi   : Siswa mampu menggunakan pola bilangan untuk

menyelesaikan masalah sehari-hari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip ARCS pada Sistematika Bahan Ajar

REVIEW PENELITIAN KUALITATIF