INSTRUCTIONAL GOALS
Model pembelajaran ARCS merupakan suatu
bentuk pendekatan pemecahan masalah untuk merancang aspek motivasi serta
lingkungan belajar dalam mendorong dan mempertahankan motivasi siswa untuk
belajar (Keller, 1987). Model pembelajaran ini berkaitan erat dengan motivasi
siswa terutama motivasi untuk memperoleh pengetahuan yang baru.
Menurut
Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (2008:28) motivasi
sangat penting dalam belajar karena motivasi dapat mendorong siswa mempersepsi
informasi dalam bahan ajar. Sebagus apa pun rancangan bahan ajar, jika siswa
tidak termotivasi maka tidak akan terjadi peristiwa belajar karena siswa tidak
akan mempersepsi informasi dalam bahan ajar tersebut. Sebagai upaya
meningkatkan motivasi belajar siswa guna meningkatkan prestasi/hasil belajar
siswa khususnya dalam mata pelajaran akuntansi dengan pokok bahasan jurnal
umum, maka penerapan model pembelajaran ARCS ini sangat efektif dipergunakan
karena model pembelajaran ARCS ini disesuaikan dengan kebutuhan ataupun minat
siswa.
ARCS
sendiri adalah akronim dari bentuk sikap siswa yakni attention (perhatian), relevance (relevansi), confidence (percaya
diri), dan satisfaction (kepuasan). Jadi, penulis menyimpulkan
bahwa model pembelajaran ARCS adalah suatu bentuk pembelajaran yang
mengutamakan perhatian siswa, menyesuaikan materi pembelajaran dengan
pengalaman belajar siswa, menciptakan rasa percaya diri dalam diri siswa, dan menimbulkan
rasa puas dalam diri siswa tersebut. Model pembelajaran ini menarik karena
dikembangkan atas dasar teori-teori dan pengalaman nyata intsruktur sehinga
mampu membangkitkan semangat belajar siswa secara optimal dengan memotivasi
diri siswa sehingga didapatkan hasil belajar yang optimal. Menurut Awoniyi, dkk
(1997:30) model pembelajaran ARCS ini mempunyai kelebihan yaitu sebagai
berikut:
a)
Memberikan petunjuk:
aktif dan memberi arahan tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa
b)
Cara penyajian materi dengan
model ARCS ini bukan hanya dengan teori yang penerapannya kurang menarik
c)
Model motivasi yang
diperkuat oleh rancangan bentuk pembelajaran berpusat pada siswa
d)
Penerapan model ARCS
meningkatkan motivasi untuk mengulang kembali materi lainnya yang pada
hakekatnya kurang menarik
e)
Penilaian menyeluruh
terhadap kemampuan-kemampuan yang lebih dari karakteristik siswa-siswa agar
strategi pembelajaran lebih efektif
Seperti yang telah
dikemukakan sebelumnya, model pembelajaran ARCS terdiri dari empat komponen.
Keempat komponen model pembelajaran ARCS tersebut yaitu sebagai berikut:
i. Attention (perhatian)
Perhatian
adalah bentuk pengarahan untuk dapat berkonsultasi/ pemusatan pikiran
dalam menghadapi siswa dalam peristiwa proses belajar mengajar di kelas.
Perhatian dapat berarti sama dengan konsentrasi, dapat pula menunjuk pada minat
”momentain” yaitu perasaan tertarik pada suatu masalah yang sedang
dipelajari (WS. Winkel, 100).
Konsentrasi/perasaan
siswa dan minat dalam belajar bisa dilihat dari siswa yang perasaannya senang
akan membantu dalam konsentrasi belajarnya dan sebaliknya siswa dalam kondisi
tidak senang maka akan kurang berminat dalam belajarnya dan mengalami kesulitan
untuk berkonsentrasi terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.
Gangguan
belajar siswa ini biasanya bersumber dari dua faktor yaitu faktor
eksternel dan faktor internal. Faktor internal yaitu faktor dari luar diri
siswa dan faktor internal yaitu faktor yang timbul dari dalam diri siswa. Perhatian
diharap dapat menimbulkan minat yaitu kecenderungan subjek yang menetap untuk
merasa tertarik pada pelajaran/pokok bahasan tertentu dan merasa senang
mempelajari materi itu yang baru dan dapat berperan positif dalam proses
belajar mengajar selanjutnya.
Menurut
Keller (1987) strategi untuk menjaga dan meningkatkan perhatian siswa yaitu
sebagai berikut:
·
Gunakan metode
penyampaian dalam proes pembelajaran yang bervariasi (kelas, diskusi kelompok,
bermain peran, simulasi, curah pendapat, demontrasi, studi kasus)
·
Gunakan media (media
pandang, audio, dan visual) untuk melengkapi penyampaian materi pembelajaran.
·
Bila merasa tepat gunakan
humor dalam proses pembelajaran.
·
Gunakan peristiwa nyata,
dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep yang digunakan.
·
Gunakan teknik bertanya
untuk melibatkan siswa.
ii. Relevance (relevan)
Relevance yang dimaksud di sini dapat diartikan sebagai keterkaitan
atau kesesuaian antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman
belajar siswa. Dari keterkaitan atau kesesuaian ini otomatis dapat menumbuhkan
motivasi belajar di dalam diri siswa karena siswa merasa bahwa materi pelajaran
yang disajikan mempunyaai manfaat langsung secara pribadi dalam kehidupan
sehari-hari siswa. Motivasi siswa akan bangkit dan berkembang apabila mereka
merasakan bahwa apa yang dipelajari itu memenuhi kebutuhan pribadi, bermanfaat
serta sesuai dengan nilai yang diyakini atau dipegangnya.suciati dan udin
syarifuddin winatasyaputra (R. Angkowo dan A. Kosasi, 2007:40-41) mengemukaan bahwa
strategi untuk menunjukan relevensi adalah sebagai berikut:
Sampaikan
kepada siswa apa yang dapat mereka peroleh dan lakukan setelah mempelajari
materi pembelajaran ini bearti guru harus menjelaskan tujuan intruksional.
·
Jelaskan manfaat pengetahuan,
keterampilan atau sikap serta nilai yang akan dipelajari dan bagaimana hal
tersebut dapat diaplikasikan dalam pekerjaan dan kehidupan nanti.
·
Berikan contoh, latihan
atau tes yang lansung berhubungan dengan kondisi siswa.
iii. Confidence (percaya
diri)
Demi membangkitkan kesadaran yang kuat
di dalam proses belajar mengajar siswa yang selama ini lebih banyak dikuasai
guru (teacher’s centered) dan lebih memproduk penghafal kata-kata bukan
pada kemampuan bagaimana belajar dan akhirnya setelah siswa tamat tidak bisa
berbuat apa-apa dan tidak ada kemampuan “problem solving” di tengah
masyarakat yang plural heterogen dan banyak masalah, maka guru harus
menggunakan strategi yang efektif.
Menurut
Keller (1987) strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri
siswa adalah sebagai berikut:
·
Meningkatkan harapan
siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman siswa, misal dengan
menyusun materi pembelajaran agar dengan mudah difahami, di urutkan dari materi
yang mudah ke sukar. Dengan demikian, siswa merasa mengalami keberhasilan
sejak awal proses pembelajaran.
·
Susunlah kegiatan
pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak
dituntut untuk mempelajari terlalu banyak konsep baru dengan sekaligus.
·
Meningkatkan harapan
untuk berhasil, hal ini dapat dilakukan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran
dan kriteria tes pada awal pembelajaran. Hal ini akan membantu siswa mempunyai
gambaran yang jelas mengenai apa yang diharapkan.
·
Meningkatkan harapan
untuk berhasil dengan menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol
keberhasilan di tangan siswa sendiri.
·
Tumbuh kembangkan
keperayaan diri siswa dengan menganggap siswa telah memahami konsep ini dengan
baik serta menyebut kelemahan siswa sebagai hal-hal yang masih perlu
dikembangkan.
·
Berilah umpan balik yang
relevan selama proses pembelajaran agar siswa mengetahui pemahaman dan prestasi
belajar mereka sejauh ini
iv. Satisfaction (kepuasan)
Kepuasan
yang dimaksud di sini adalah perasaan gembira, perasaan ini dapat menjadi
positif yaitu timbul kalau orang mendapatkan penghargaan terhadap dirinya.
Perasaan ini dapat meningkat kepada perasaan percaya diri siswa nantinya dengan
membangkitkan semangat belajar diantaranya dengan:
·
Mengucapkan “baik”,
“bagus” dan seterusnya bila peserta didik menjawab /mengajukan pertanyaan.
·
Memuji dan memberi
dorongan, dengan senyuman, anggukan dan pandangan yang simanatik atas
partisipasi siswa.
·
Memberi tuntunan pada
siswa agar dapat memberi jawaban yang benar.
·
Memberi pengarahan
sederhana agar siswa memberi jawaban yang benar. (Keller, 1987)
Komentar
Posting Komentar